Sekretariat Senthir

Jalan Gatak, Gang Tulip No. 343, Karangbendo, Bantul, Yogyakarta
Email: redaksisenthir@yahoo.co.id | Blog: senthir-gmni.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Oktober 2013

MODAL DAN WAJAH DESAKU




Oleh: Abd. Wahid Hasyim

Kurang lebih 19 tahun yang lalu tepatnya tahun 1994 desaku mulai dialiri listrik. Fase ini menjadi penggalan sejarah penting dalam potret kehidupan desaku mengingat wajah kehidupan selanjutnya sangat dipengaruhi oleh fase tersebut. Masuknya listrik telah meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap barang-barang elektronik; televise, video, komputer dan lain-lain.
Namun apalah artinya aliran listrik-yang konon dalam bahasa pemerintah adalah salah satu agenda pembangunan-apabila tidak diiringi dengan penguatan pundi-pundi ekonomi masyarakat yang berlatarbelakang agraris. Aliran listrik hanya menjadi berkah-parsial karena sebatas memenuhi dahaga internainment  atau akses informasi dengan dunia luar. Sebab  listrik yang masuk tidak di tujukan sebagai salah satu sarana yang mampu mengentaskan problem penumbuk sagu yang masih sangat tradisionil yang secara kapasitas produksi tentu terbatas atau petani singkong yang diolah menjadi  menjadi kripik dan lain-lain.
Masuknya listrik harus diikuti pula oleh pemabangunan manusianya dalam hal produksi produk desa dan teknik pemasaran dan lain-lain agar nilai jual bertambah. Ketiadaan pelatihan semacam itu telah membuat sebagian penduduk desa meninggalakan pekerjaannya dan beralih menjadi tenaga jasa di kota-kota yang semakin menambah angka tingginya laju urbanisasi. Tingginya angka orang-orang di desaku yang pergi ke kota (merantau) terutama yang untuk urusan ekonomi pada gilirannya merubah pula tatanan sosial dari tatanan sesama petani yang lebih setara kemudian melahirkan tatanan berkelas; juragan dan petani. Termasuk cara membangun rumah pun akan berubah menjadi rumah berpagar tinggi layaknya rumah pengusaha di kota besar.
Pilihan masyarakat desa untuk hijrah ke kota dapat ditemukan jawabannya apabalia melihat struktur pembangunan pemerintah Indonesia pasca 1967. Dr. Nasikun mengatakan, kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan di era 1970-1978, namun kemiskinan di desa masih nyata. Hal itu disebabkan karena pusat pembangunan masih terkonsentrasi di perkotaan dan  menyebabkan kesenjangan desa dan kota.  Modal yang besar yang diinvestasikan untuk pondasi pembangunan nasional lebih menitik beratkan sektor minyak bumi dan gas. Oleh karenanya pilihan menanam modal besar itu adalah wilyah-wilayah yang kaya akan hasil alamnya.
Namun demikian menurut Soegijanto Padmo, wilayah-wilayah yang menjadi pusat penanaman modal investasi juga melahirkan kesenjangan tersendiri. Ia mencontohkan Kalimantan timur, Negara yang menjadi penghasil minyak dan kayu ini ternyata hanya mewakili beberapa titik untuk kesejahteraan yakni Balikpapan dan Samarinda.  Jalan aspal hanya terpusat di kota dan daerah dengan radius 40 Km. Dari paparan fakta di atas terungkap alasan mengapa salah satu pilihan merantau penduduk desa saya adalah Balikpapan dan Samarinda.
Tulisan ini akan saya tutup dengan tawaran untuk lebih mengurai konsentrasi pembangunan di satu titik menjadi lebih mencair di berbagai sector dengan klasifikasi yang jelas yakni, pembangunan modal skala besar dan kecil (padat karya). Kreatifitas dan kemampuan produksi masyarakat desa harus di dorong dan di fasilitasi berupa pelatihan, akses dan pemenuhan pasar yang pasti. Suntikan modal yang tepat guna di desaku mungkin akan mempengaruhi perwajahan kehidupannya. Sehingga istilah penghasilan sebenggol sehari kata Bung Karno pada era 1920-an dapat  teratasi. Lebih dari itu tentu pembangunan desa akan dapat meredam laju urbanisasi dan mempertahankan sendi-sendi kebudayaan desa sebagai benteng kebudayan nasional.

Sumber bacaan:
1. Dr. Nasikun, ”pembangunan masyarakat desa untuk memerangi kemiskinan”,1994.
2. Soegijanto Padmo, “Pembangunan Pedesaan Indonesia: penggalan masa lalu dan prospek masa depan”, 1994.   

Read more >>

Selasa, 24 September 2013

STOP IMPOR BERAS, WUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN NEGARA



Oleh : Abd. Wahid Hasyim 


“ Soal pangan adalah soal hidup-matinya sebuah bangsa”…. (Bung Karno) Merdeka!!!

     Hampir setiap tahun kebijakan impor beras selalu digulirkan oleh pemerintah. Kebijakan itu diambil dengan dalih pemenuhan kebutuhan stok beras nasional. Namun pilihan politik impor beras barangkali hanya menyelesaikan problem pangan negara secara temporal dan belum menyentuh pada “jantung” masalah. Impor beras sebagai jawaban tidak akan pernah menyelesaikan problem pangan nasional tanpa melihat sebab yang mendasarinya.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tradisi agraris yang cukup tua di dunia, tentu menjadi ironi tersendiri tatkala Indonesia harus mengimpor beras yang notabene menjadi makanan pokok rakyat Indonesia. Padahal bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara, Indonesia memiliki luas wilayah daratan yang cukup besar dibanding Vietnam dan Thailand, namun kedua negara tersebut mampu mengekspor beras bahkan Indonesia termasuk penikmat produk ekspor beras dari kedua negara tersebut.     
Impor beras sebagai rutinitas telah menimbulkan berbagai pertanyaan serius. Antara lain, pertama, impor beras kerapkali dilakukan pada saat petani beras Indonesia panen raya. Tentu praktik tersebut membuat harga beras lokal terjun bebas dan membebani nasib hidup petani Indonesia. Panen raya sejatinya harus dijadikan momentum untuk meningkatkan harkat hidup petani, minimal secara pendapatan, namun dengan banjirnya impor beras justru menjadikan harga beras di petani anjlok. Hal tersebut belum menyangkut tawar-menawar harga antara permintaan pemerintah dengan pihak petani. Fakta di lapangan kerapkali menunjukkan bagaimana harga yang diminta petani tidak mampu diakomodir oleh pemerintah. Di sinilah butuh kepastian pasar dalam arti stabilitas harga dari pemerintah guna menyudahi keterpurukan petani dalam cengkraman para tengkulak.
Kedua, pesoalan impor beras menunjukkan persoalaan ketidakmampuan pemerintah membuat cetak biru pangan secara nasional. Cetak biru pangan nasional harus melihat beberapa persoalaan mendasar seperti perlindungan lahan pertanian yang hari ini semakin tergerus oleh pembangunan-pembangunan seperti, perumahan, mall, dll. perlindungan lahan menjadi penting, mengingat tanah adalah faktor produksi utama bagi petani itu sendiri. Persoalaan lain yang harus diperhatikan ialah bagimana cara pembangunan mentalitas manusia Indonesia agar tidak semakin jauh dari dunia pertanian. Dalam hal ini pendidikan sebagai media pembangunan karakter harus semakin giat menunjukkan dan mengarahkan pentingnya pertanian bagi kehidupan bangsa. Sebab hari ini banyak institusi pendidikan yang memproyeksikan peserta didik menjadi manusia di sektor jasa, atau dengan istilah sederhana, semakin menjauhkan peserta didik untuk bertani.
Ketiga, adakah peran pemerintah dalam membantu petani dalam bentuk subsidi diantaranya pupuk, benih, alat pertanian dan pembangunan infrastuktur seperti irigasi, yang dari kesemuanya itu diharapkan pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Kesejahteraan petani pada gilirannya diharapkan mampu menggeser kebiasaan masyarakat di kantong-kantong pertanian agar tidak ikut larut dalam arus urbanisasi yang akan meningkatkan angka kemiskinan kota. Pemerintah seharusnya berkaca pada negara tetangga, yakni Thailand termasuk juga Jepang dimana kondisi kesejahteraan petaninya jauh di atas rata-rata daripada kondisi petani Indonesia. Sudah menjadi keharusan bagi pemerintah untuk lebih serius menangani problem kedaulatan pangan (beras) Indonesia. Apabila tidak, mimpi untuk swasembada beras hanya akan menjadi isapan jempol semata. Jauh melampaui itu, ketidakseriusan mengurusi pertanian merupakan bukti keterputusan nilai-nilai filsafat nusantara. Bukankah bangsa ini mengenal Dewi Sri, simbol kesuburan, yang memiliki makna bahwa bertani adalah bagian dari menjaga dan bersatu dengan alam dalam harmoni. Selamat hari tani...
Read more >>

Senin, 24 September 2012

BELAJAR DARI TRAGEDI UNI SOVIET

(Memperingati Hari Tani 24 September 2012)
Oleh: Abd. Wahid Hasyim

Persoalan pangan yang masih krisis dibangsa ini sungguh sangat mencemaskan rakyat. Krisis pangan ditandai dengan kebijakan impor yang istiqomah dari tahun-ketahun oleh negara. Kebijakan impor diakibatkan oleh semakin menyempitnya lahan subur untuk pertanian. Fakta kualitatifnya sangat jelas di depan mata, dimana ekstensifikasi lahan pertanian tidak sebanding dengan laju pembangunan perumahan, mall, dan lain sebagainya. Data kuantitatifnya, sebagaimana laporan harian Suara Merdeka (11/3/12) bahwa hasil sensus lahan oleh Kementerian Pertanian (Kementan), lahan sawah pada 2010 susut menjadi 3,5 juta ha dari 4,1 juta ha tahun 2007. Dalam rentang waktu tiga tahun, konversi lahan mencapai 600 ribu ha.
Persoalaan penyempitan lahan memang sangat kompleks faktornya. Hanya saja salah satu dampaknya terkait dengan tingkat kesejahteraan petani. Tingkat kesejahteraan petani selain ditentukan oleh faktor struktural (tinggi-rendahnya harga beli pemerintah; Bulog) juga berkaitan dengan lahan yang mereka miliki sebagai faktor produksi. Luas tidaknya lahan berkorelasi lurus dengan jumlah hasil produksinya. Sehingga semakin sempit lahan semakin kecil pula jumlah produksi petani. Penyempitan lahan, teknologi pertanian yang lemah serta rendahnya harga beli pemerintah telah menjadi kompleksitas tersendiri dalam persoalaan pertanian bangsa ini. Kompleksitas tersebut mengakibatkan duka nestapa bagi para petani bangsa ini beserta posisi petani dalam struktur kehidupan sosial. Duka nestapa itulah yang menjadi alasan logis mengapa jumlah petani Indonesia berkurang dan banyak yang beralih pada sektor jasa.
Peralihan sistem kerja produksi agraris menuju sektor jasa juga telah menyumbang jumlah angka urbanisasi masyarakat pedesaan ke perkotaan. Kiranya perlu kita mengingat kembali pidato Bung Karno pada saat peresmian kampus IPB (Institut Pertanian Bogor) tahun 1952, “Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala-petaka, dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati...”. Secara eksplisit dijelaskan bahwa pangan adalah unsur fundamental bagi peri kehidupan berbangsa dan bernegara! Apabila pidato sang proklamator di atas diterima nilai kebenarannya, maka negara ini sedang dalam bahaya. Bila soal pertanian diamini sebagai soal hidup dan matinya rakyat, tentu juga menjadi soal mati dan hidupnya negara ini. Potret pertanian negeri ini yang menggambarkan kemerosotan kualitas dan kuantitas dari tahun ke tahun cukuplah menjadi bukti bahwa negara sedang dalam kondisi darurat.
Lantas dari potret ini semakin mempertegas pula standing position pemerintah, betapa pemerintah tidak hadir apalagi berpihak untuk mengentaskan buruknya persoalan pertanian bangsa dan nasib para petaninya. Sebagai bahan refleksi, kita harus mengambil pelajaran dari fakta sejarah runtuhnya Uni Soviet tahun 1991. Konflik sosial memang telah terjadi sebelumnya dan memercik menjadi keretakan antara Moskwa dan negara-negara lainnya.
Namun ketegangan memuncak tatkala Soviet dilanda krisis pangan akut akibat dari gagal panen. Hal tersebut mengharuskan untuk membuat kebijakan impor gandum dari Amerika. Sayangnya, Amerika memiliki prasyarat yang harus dipenuhi untuk bersedia mengekspor gandumnya pada negara komunis tersebut. Prasyarat itu adalah Soviet wajib membuka pasarnya untuk kepentingan ekonomi dan investasi negara Paman Sam. Tragedi itu dikenal dengan tiga semboyan glasnost (keterbukaan politik), perestroika (restrukturisasi ekonomi), dan uskoreniye (percepatan pembangunan ekonomi).
Desakan itu akhirnya dipenuhi oleh elit penguasa Soviet mengingat instabilitas kehidupan yang semakin memuncak. Refleksi atas fakta dan pemaknaan sejarah di atas sangat penting mengingat negara kita secara pasti sedang menganut “politik impor”. Padahal belum tentu kegiatan impor hanya selesai pada koridor geliat perekonomian semata. Justru yang menjadi kekhawatiran ialah buntut di balik kegiatan impor itu sendiri.
Hal ini tentu sangat bahaya karena dapat berakibat pada semakin kerdilnya kedaulatan negara. Sudah saatnya pemerintah membenahi tata cara pertanian bangsa ini apabila masih menghendaki seluruh rakyatnya selamat dari jurang malapetaka. Subsidi negara dalam sektor pertanian, serta pembenahan sarana dan prasarana yang dapat mempermudah dan meningkatkan hasil pertanian dalam negeri dan yang terakhir adalah proteksi lahan pertanian dari keserakahan kaum pemodal tentu sangat menjadi harapan bersama guna menyelamatkan nasib petani dari jeratan tengkulak dan koorporat yang kapitalis. Sehingga persoalan paling mendasar terletak pada politik agraria pemerintah beserta ejawantahnya. Sebagai rakyat yang masih peduli terhadap nasib petani, kita dapat mengajukan pertanyaan kepada pemangku kebijakan di negeri khatulistiwa ini, “kalian berdiri di pihak yang mana?
Read more >>

Selasa, 14 September 2010

Untung Rugi Rupiah Ramping (Redenominasi Tak Mendesak )

USUL Bank Indonesia merampingkan angka nominal rupiah (redenominasi) pada 2013 melahirkan sejumlah tudingan. Bank sentral dianggap lebih mementingkan soal mata uang ketimbang inflasi, mengawasi bank, dan menggenjot kredit.

Tapi Bank Indonesia jalan terus. Menurut Gubernur BI Darmin Nasution, perampingan angka nominal rupiah harus dilakukan. Selain membuat rupiah lebih gagah, perampingan membuat akuntansi lebih gampang.

Bank Indonesia kini sudah merampungkan studi tentang redenominasi dan akan segera disampaikan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Nanti keputusan politik yang akan menentukan," ujarnya kepada Padjar Iswara, Agus Supriyanto, Agoeng Wijaya, Famega Syavira, dan Sutji Decilya dari Tempo, yang menemuinya pada Kamis malam pekan lalu.

Apakah perampingan angka nominal rupiah sangat mendesak sehingga harus diprioritaskan?

Prioritas Bank Indonesia sekarang ini adalah membenahi pengawasan bank agar kredit berjalan, tingkat suku bunga turun, melakukan kebijakan moneter yang hati-hati agar makroekonomi stabil dan inflasi terkendali. Seluruh cetak biru prioritas tadi akan selesai akhir tahun ini sehingga awal 2011 sudah bisa jalan. Tapi kami melihat prioritas tersebut perlu dilengkapi dengan pembenahan sistem pembayaran, termasuk redenominasi. Kami perkirakan rencana ini baru bisa berjalan pada 2013, karena harus dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah. Jadi, kalau ditanya redenominasi urgent atau tidak sekarang, jawabnya redenominasi memang tak mendesak.

Jadi hanya kebijakan pelengkap?

Dalam bahasa matematika: ada yang necessary, ada sufficient. Nah, redenominasi ini sufficient-semacam pelengkap dan penyempurna. Yang necessary adalah pengawasan perbankan, perkreditan, dan kebijakan moneter.

Apa pengaruh redenominasi bagi perekonomian kita?

Jika orang terbiasa berpikir dengan paradigma pecahan uang besar, kenaikan harga barang dari Rp 100 menjadi Rp 200 dianggap biasa, meski kenaikan itu 100 persen. Kalau dengan paradigma pecahan uang kecil, Rp 100 adalah urusan besar. Rp 1 saja sudah diperhitungkan, apalagi Rp 100.

Dengan pecahan uang besar, kecenderungan pembulatan ke atas itu makin banyak. Kalau mau menaikkan tarif Transjakarta dari Rp 3.500 kan di pikirannya langsung ke Rp 5.000. Mereka tidak berani membuat tarif Rp 4.700. Dengan pecahan kecil, orang akan menghitung sen-senan.

Dengan begitu, inflasi bisa terkendali?

Sebetulnya tak terkait langsung, tapi kami melihat itu penting. Manfaat perampingan adalah mempermudah dan mengefisienkan pembayaran. Sekarang warung saja sudah mengalami kesulitan dengan digit yang banyak. Apalagi perusahaan dengan sistem informasi, misalnya asuransi atau perusahaan kelapa sawit. Pencatatannya begitu panjang, sehingga angka di belakang koma sering tak tampak. Dengan redenominasi, pembulatan ke atas berkurang sehingga inflasi berpotensi ditekan.

Benarkah kebijakan itu agar rupiah lebih gagah?

Jika orang asing datang ke Indonesia lalu menukar tiga lembar dolar di lapangan terbang, dia akan dapat segepok rupiah. Orang asing itu akan langsung bilang begini, "Wah, underdeveloping country, nih," ha-ha-ha....
Selain itu, kasihan anak-anak kita di sekolah dasar. Di kelas mereka menghitung 4+7=11. Tapi dia dikasih uang jajan Rp 5.000. Pergi ke warung, beli sesuatu Rp 1.500 atau Rp 2.000. Di kelas belajarnya 4+7, kok urusan duit jadi empat digit-1.500 dan 2.000. Ini persoalan serius, lo.

Program ini akan berbiaya tinggi?

Kalau jadi dilaksanakan pada 2013, uang lama yang lusuh dan rusak akan ditarik dan diganti yang baru. Jadi tak ada sama sekali penambahan uang cetak. Biayanya tetap. Bahkan kalau dalam jangka panjang biayanya pasti turun, karena pecahannya makin kecil.

Tapi masyarakat akan bingung....

Karena itu, ada undang-undang. Label harga di toko-toko harus ditulis dengan uang lama dan uang baru. Kalau beli korek Rp 1.500 uang lama, ditulis juga harga uang baru Rp 1,5. Kalau ada orang yang sudah punya uang baru, dia bayar saja pakai uang baru. Kalau punya uang lama, ya dia bisa bayar pakai uang itu. Bahkan bercampur pun bisa. Tidak ada masalah kok, dua-duanya sah.


Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/09/LU/mbm.20100809.LU134321.id.html
Read more >>

Untung Rugi Rupiah Ramping (Agar Lebih Kredibel)

Rencana Bank Indonesia melakukan redenominasi mengundang perdebatan. Banyak yang khawatir rencana ini tak dimengerti rakyat kecil dan menimbulkan kepanikan. Indonesia punya sejarah melakukan sanering alias pemotongan nilai mata uang yang ternyata tak berhasil menyelamatkan perekonomian. Tapi Bank Indonesia yakin, dengan redenominasi, rupiah terlihat gagah, bernilai, dan kredibel.

Redenominasi

Denominasi (dari bahasa Latin: denomatio) merujuk pada istilah pecahan mata uang. Redenominasi dalam rencana Bank Indonesia secara sederhana bisa diartikan memangkas angka nolnya, tanpa mengurangi nilai rupiahnya. Misalnya uang Rp 1.000, jika angka nolnya dipangkas tiga digit menjadi Rp 1. Pada saat bersamaan, harga barang dan jasa pun ikut berubah tiga digit, sehingga daya beli masyarakat tak terganggu.

Contoh

a. Sebelum redenominasi: Pengendara motor membayar satu liter bensin Rp 4.500 dengan empat lembar uang Rp 1.000 dan koin Rp 500.

b. Setelah redenominasi Rp 1.000 = Rp 1: Pengendara membayarnya dengan pecahan mata uang baru Rp 4,5. Bisa dengan empat lembar uang seperak (Rp 1) dan uang koin 50 sen.

Tujuan
Menyederhanakan pecahan agar efisien. Menyiapkan ekonomi Indonesia agar setara dengan negara tetangga.

Dampak
Tak ada kerugian, karena daya beli tetap sama.

Nilai uang
Tetap, karena yang berubah penyebutan dan cetakan pecahan uang.

Penerapan
Ekonomi tumbuh dengan makroekonomi yang stabil dan inflasi terkendali.

Manfaat
• Efisiensi sistem akuntansi, pencatatan transaksi keuangan
• Secara psikologis rupiah lebih gagah
• Tak repot membawa banyak uang
• Mengurangi pembulatan harga barang/jasa ke atas
• Bisa menekan inflasi
• Menyesuaikan dengan rencana mata uang tunggal ASEAN

Sanering

Sanering berasal dari bahasa Belanda 'geld sanering politiek', yang secara harfiah berarti politik penyehatan uang. Istilah ini hanya disebut sanering untuk menunjuk kebijakan penyehatan atau pemotongan/pengguntingan nilai mata uang yang biasanya dilakukan untuk menekan inflasi yang tinggi. Sanering tak mengubah pecahan mata uang, tapi hanya nilainya yang turun. Misalnya, uang Rp 1.000 nilainya turun menjadi Rp 100, atau Rp 500 menjadi Rp 50. Sementara harga barang tetap tidak berubah, sehingga daya beli masyarakat jatuh.

Contoh

Si A punya uang Rp 2.000.000 yang akan dibelikan telepon seluler. Tiba-tiba pemerintah memutuskan sanering 50 persen. Akibatnya, uang si A jadi tinggal separuhnya atau Rp 1.000.000. Si A tak bisa lagi membeli ponsel itu karena harga alat komunikasi itu tetap Rp 2.000.000.

Tujuan
Mengurangi jumlah uang beredar yang bisa memicu inflasi. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi.

Dampak
Rugi. Daya beli turun drastis.

Nilai uang
Lebih kecil karena yang dipotong nilainya.

Penerapan
Dilakukan saat ekonomi bergejolak akibat inflasi yang sangat tinggi.

Manfaat
Tidak bermanfaat.

Sumber: Bank Indonesia, Riset, dan wawancara Tempo

BILA TIGA DIGIT NOL HILANG

Rp 100.000= Rp 100
Rp 50.000= Rp 50
Rp 20.000 = Rp 20
Rp 10.000 = Rp 10

Rp 5.000 = Rp 5
Rp 2.000 = Rp 2
Rp 1.000 = Rp 1

Rp 200 = 20 sen
Rp 100 = 10 sen
Rp 50 = 5 sen
Rp 25 = 2,5 sen

PENGALAMAN GUNTING RUPIAH

19 Maret 1950

Sanering pertama. Kebijakan ini dikenal dengan "Gunting Sjafrudin", karena ditetapkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia Serikat Sjafrudin Prawiranegara. Sanering itu untuk menekan harga yang melambung tinggi alias inflasi.

Uang kertas De Javasche Bank-sekarang Bank Indonesia-pecahan Rp 5 ke atas dan uang NICA pecahan f (gulden) 2,50 ke atas dipangkas. Guntingan uang sebelah kanan ditukar dengan surat utang pemerintah Indonesia 1950 berbunga 3 persen. Potongan uang kiri tetap beralaku, tapi nilainya tinggal setengahnya.

25 Agustus 1959

Sanering kedua. Nilai uang Rp 500 dan Rp 1.000 digunting menjadi Rp 50 dan Rp 100. Paket sanering ini juga berisi kebijakan pemerintah membekukan sebagian simpanan pada bank sebesar 90 persen dari jumlah simpanan di atas Rp 25 ribu. Alih-alih berhasil menekan inflasi, laju inflasi malah meroket dari 22 persen pada 1959 menjadi 594 persen pada 1965.

13 Desember 1965

Bank Indonesia melakukan redenominasi. Pada saat itu inflasi tinggi dan defisit anggaran besar. Pemerintah pun mengeluarkan mata uang baru dan uang rupiah khusus Irian Barat (IB). Isinya, Rp 1 (baru) = Rp 1.000 (lama), dan Rp 1 (baru) = IB Rp 1. Adapun US$ 1 menjadi Rp 45 dari Rp 11,4. Kebijakan ini gagal karena inflasi pada 1964 naik lagi menjadi 635,5 persen.

BERTAHAP

Jika redenominasi disetujui pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tahun depan, Bank Indonesia sudah menyiapkan tahapannya:

2011-2012

Sosialisasi intensif ke masyarakat dan dunia usaha.

2013-2015

Uang lama tetap berlaku. Rupiah baru dicetak dengan penanda kata "Baru". Label harga pada produk atau jasa sudah diumumkan dalam dua versi, uang lama dan uang baru. Misalnya Premium 1 liter Rp 4.500/ Rp 4,5. Pada tahap ini juga BI pelan-pelan menarik uang lama lusuh.

2016-2018

Semua uang kertas lama ditarik. Mulai berlaku uang baru.

2019-2020

Pemerintah mulai menarik uang berlabel "Baru" dan menggantinya dengan uang tanpa tanda "Baru".


Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/09/LU/mbm.20100809.LU134320.id.html
Read more >>

Untung Rugi Rupiah Ramping (Ketika Anjing Mengalahkan Singa)

RUMANIA, awal Juli, lima tahun silam. Perekonomian negeri ini memasuki babak baru. Negara di Eropa Timur itu meluncurkan mata uang baru, leu berlambang RON-seperti Rp pada rupiah Indonesia. Leu baru menandai berakhirnya penggunaan mata uang leu lama-berkode ROL-yang punya nol enam digit. "Si malang leu ini kini lebih mirip anjing linglung," kata Presiden Traian Basescu, seraya mengambil beberapa lembar uang baru dari mesin kas di satu sudut ibu kota negeri itu, Bukares.

Pada hari bersejarah itu, bank sentral Rumania memperkenalkan pecahan baru hasil redenominasi atau perampingan nominal mata uang. Satu leu baru setara dengan 10 ribu leu lama. Sejak itu, leu-yang artinya singa-menciut jadi "anjing" lantaran kini nolnya dipangkas empat digit.

Nyatanya, sang anjing malah lebih hebat ketimbang singa pendahulunya. Dengan perubahan itu, nilai tukar leu pada dolar Amerika ataupun euro secara psikologis menguat. Dulu, US$ 1 setara dengan RON 29.800. Kini, setiap US$ 1 dihargai RON 2,98, sedangkan 1 euro setara dengan 3,6 leu. Perubahan itu membuat transaksi menjadi praktis. Dengan pecahan lebih sederhana: 1, 5, 10, 50, 100, dan 500, para pegawai di Rumania tak perlu lagi menenteng duit jutaan leu pada gajian setiap bulan.

Di Zimbabwe, perampingan nominal mata uang terjadi pada 1 Agustus dua tahun lalu. Gubernur bank sentral Zimbabwe, Gideo Gono, memangkas 10 digit nol mata uang dolar negara itu. "Setiap sepuluh miliar dolar Zimbabwe akan menjadi satu dolar," katanya, seperti dikutip CNN.

Efeknya, sistem transaksi elektronik negara di Benua Afrika itu terbantu. Maklum saja, lantaran harus menghitung angka mirip rangkaian kereta, komputer ataupun kalkulator di sana kerap hang. Rupanya, mesin juga pitam ketika menghitung transaksi miliaran atau triliunan.

Sepanjang 2005 hingga saat ini, beberapa negara melakukan perampingan angka mata uangnya untuk mengatasi hambatan sistem pembayaran. Selain Rumania dan Zimbabwe, Turki, Slovenia, Azerbaijan, Mozambik, serta Venezuela memangkas beberapa digit nol mata uangnya. Zimbabwe bahkan memecahkan rekor lantaran merampingkan angka mata uangnya lebih dari sekali.

Perampingan mata uang memang langkah menyederhanakan sistem pembayaran, ketika angka nominal satu mata uang sudah terlalu besar. Ketika inflasi meroket, transaksi harian bakal terpengaruh lantaran uang yang harus dibawa dan dicatat luar biasa banyak. Alhasil, pecahan mata uang lama harus diganti, atau diseimbangkan dengan pecahan baru yang secara nominal lebih kecil.

Dalam makalah berjudul "Dropping Zeros, Gaining Credibility? Currency Redenomination in Developing Nations", Layna Mosley, peneliti dari University of North Carolina, Amerika Serikat, mengatakan perampingan nominal mata uang sudah dilakukan sejak abad ke-19. Ketika itu, pemerintah suatu negara melakukannya bila terjadi kekurangan alat pembayaran, seperti emas atau perak. "Penyesuaian pun dilakukan pada nilai koin," katanya. Situs Wikipedia mencatat, sejak 1826 hingga 2009, 30 negara telah melakukan 44 kali redenominasi.

Sayangnya, motif perampingan nominal mata uang menjadi terlalu muluk: menurunkan inflasi dan mengangkat "harga diri" mata uang sebuah negara terhadap dolar atau euro. Penjabat gubernur bank sentral Rumania, Mugur Isarescu, mengatakan perampingan nominal mata uang harus dilakukan setelah leu beberapa kali terdevaluasi terhadap dolar akibat meroketnya inflasi.

Ketika leu mulai stabil dan menguat, hingga bisa menandingi euro dan dolar Amerika, Rumania merasa perlu menerbitkan leu "baru" agar sejajar dengan dua mata uang global itu. "Selain simbol stabilitas ekonomi, RON memuluskan jalan kami untuk bergabung menggunakan mata uang tunggal euro," katanya, seperti dikutip Bucharest Daily News. Memang, selain kepercayaan diri yang bangkit setelah leu menguat terhadap dolar, tingkat inflasi Rumania yang sempat mencapai ratusan persen pada dekade 1990 bisa ditekan hingga belasan persen.

Turki juga sukses melakukan perampingan angka nominal lira, yang dimulai pada 1 Januari 2005. Beberapa tahun setelah mengkonversi 1 juta lira menjadi 1 new Turkish lira, inflasi di negeri bekas Kesultanan Ottoman itu turun dari 12 persen menjadi sekitar 5 persen. Sukses perampingan angka nominal lira, menurut Kepala Biro Hubungan Massa Bank Indonesia Difi Johansyah, tak lepas dari peran Menteri Keuangan Turki. "Dia ibarat lokomotifnya," katanya.

Sekalipun akhirnya berbuah manis, tetap saja ada pil pahit yang mesti ditelan. Di Rumania, kepercayaan publik kepada pemerintah sempat anjlok. Rakyat khawatir para pedagang mencuri kesempatan menaikkan harga, ketika leu lama dan leu baru bersandingan sebagai mata uang resmi hingga 1 Januari 2006. Untuk mengatasinya, pemerintah sampai mewajibkan pedagang memajang dua banderol ROL dan RON pada satu barang.

Perampingan angka nominal rubel Rusia pada Januari 1998 juga sempat membuat kacau sektor retail. Sosialisasi pemotongan angka nominal hingga seperseribu itu tak menyentuh semua kalangan, terutama pendatang asing. Kejadian tak mengenakkan dialami Suryo Guritno, promotor tinju Indonesia yang ketika itu sedang berada di Moskwa. Ketika akan membeli sosis di sebuah toko swalayan, ia tak tahu nilai rubel telah berganti. "Rubel lama yang saya bawa tak laku dan sulit menukarkannya," ia bercerita kepada Tempo.

Namun tak semua negara menuai berkah redenominasi. Zimbabwe, misalnya, tingkat inflasinya tak kunjung turun walaupun berkali-kali melakukan perampingan angka mata uangnya. Pada redenominasi jilid satu, 2006, ketika tiga angka nol dolar Zimbabwe dihilangkan, penyesuaian harga terhadap angka nominal uang baru berjalan lamban. Inflasi pun melonjak.

Gideo Gono menyusutkan angka nominal untuk kedua kalinya dengan memangkas sepuluh digit nol, atau sepersepuluh miliar, pada 2008. Rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat membuat kebijakan ini gagal. Harga barang malah melonjak berjuta kali lipat. Pada 2009, perampingan angka nominal ketiga dilakukan dengan memangkas 12 digit nol. Tapi, lantaran stok barang yang terbatas, ditambah keadaan perang, stabilitas ekonomi negeri di bagian selatan Benua Afrika itu tak kunjung membaik. Tak ada hasil positif perampingan nominal mata uang selain transaksi yang lebih praktis.

Becermin pada berbagai pengalaman, perampingan nominal mata uang memang bukan perkara gampang. Namun tampaknya Bank Indonesia sudah berketetapan hati mengambil langkah strategis ini. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan perampingan nominal mata uang penting untuk mengubah cara pandang terhadap pecahan uang kecil, seraya bisa membantu menekan inflasi. "Jika terlalu lama memakai pecahan uang besar, ada kecenderungan pembulatan harga ke atas, dan ini yang mendorong inflasi," katanya.

Agar masyarakat tak bergejolak, kata Darmin, satu cara yang bisa diikuti dari pengalaman negara lain adalah penarikan pecahan lama secara perlahan, seraya menyandingkannya dengan pecahan baru untuk menilai harga satu barang. Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa berpandangan lain. Redenominasi di Indonesia belum perlu dilakukan lantaran inflasi, kurs, dan stabilitas ekonomi saat ini masih terjaga. "Jangan sampai membuat sesuatu yang mubazir," katanya.

Fery Firmansyah, Agoeng Wijaya (BBC, Reuters, AP)


Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/09/LU/mbm.20100809.LU134319.id.html
Read more >>

Untung Rugi Rupiah Ramping (Dari Sampah Jadi Gagah)

KEREPOTAN melanda Bank Indonesia. Senin pekan lalu, anggota dewan gubernur dan para pejabat bank sentral kebanjiran pertanyaan lewat telepon dan pesan pendek dari bankir, investor, serta masyarakat. Mereka resah dengan rencana Bank Indonesia melakukan redenominasi alias perampingan angka nominal rupiah. Lembaga itu dikira akan memangkas nilai rupiah alias sanering. "Sampai-sampai kawan saya di kampung ikut nanya soal isu tersebut," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D. Hadad kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

Mau tak mau anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut. Keesokan harinya mereka menggelar rapat. Gubernur Bank Indonesia yang baru saja terpilih, Darmin Nasution, dan Deputi Gubernur Budi Rochadi meninggalkan rapat lebih awal. Mereka mengadakan jumpa pers untuk meluruskan berita tentang redenominasi yang semakin simpang-siur.

Darmin meminta masyarakat tenang. "Redenominasi itu bukan sanering atau pemotongan nilai rupiah," katanya. Redenominasi, kata bekas Direktorat Jenderal Pajak ini, hanyalah penyederhanaan penyebutan satuan harga atau nilai mata uang. Angka pada mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilainya. Misalnya, Rp 1.000 menjadi Rp 1, sedangkan Rp 1.000.000 menjadi Rp 1.000. Pemangkasan angka nominal rupiah, ujarnya, tak merugikan masyarakat lantaran nilai barang dan jasa tak berubah (lihat infografik "Agar Lebih Kredibel").

Bank Indonesia, kata Darmin, sudah merampungkan studi mendalam terhadap rencana perampingan nominal rupiah tersebut. Kebon Sirih-sebutan Bank Indonesia merujuk ke alamat kantornya-segera membawa usul itu secara resmi ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, akhir tahun ini. "Ini bukan hanya keputusan ekonomi, tapi juga perlu keputusan politik," katanya. Bila pemerintah dan juga Dewan Perwakilan Rakyat setuju, pada 2011-2012 akan dilakukan sosialisasi. Pelaksanaannya bertahap mulai 2013 hingga 2018. Saat itu ada dua mata uang rupiah lama dan rupiah baru. Pada 2020, redenominasi rampung. Rupiah lama ditarik penuh dan berlakulah rupiah baru.

Rencana perampingan ini malah menjadi bola liar. Pro dan kontra menyeruak. Para ekonom, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan pengusaha terbelah. "Tak ada urgensinya dan berpotensi mengganggu stabilitas," kata Kepala Ekonom Danareksa Research Institut Purbaya Yudhi Sadewa. Anggota Dewan dari Fraksi Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy, mengatakan Bank Indonesia sebaiknya berfokus pada inflasi ketimbang merealisasikan perampingan angka nominal rupiah. Sebaliknya, anggota Dewan dari Partai Demokrat, Achsanul Qosasi, justru mendukung rencana Bank Indonesia itu. "Dilihat dari tujuannya, ini bisa berdampak positif."

Rencana Bank Indonesia memangkas digit rupiah membuat pemerintah kebakaran jenggot. Sumber Tempo di lingkungan pemerintah mengungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Kementerian Keuangan kecewa karena tak diajak bicara tentang masalah strategis tersebut. "Mereka kaget sekali," ujarnya. Hatta kepada wartawan pekan lalu memang mengatakan, "Pemerintah belum punya rencana melakukan redenominasi, dan itu masih wacana." Begitu juga Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Menurut mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu, pemangkasan angka nominal rupiah masih berupa studi. "Jadi belum final," ujarnya.

l l l

RAPAT Dewan Direksi Bank Indonesia dilakukan pada akhir 1999. Setiap direktorat di lingkungan Bank Indonesia diminta membuat program kerja. Direktorat Peredaran Uang, kata sumber Tempo, mengusulkan kajian mengenai redenominasi. Sebab, ada indikasi angka dalam laporan keuangan perbankan sudah semakin besar: mencapai ratusan miliar. Tapi rencana itu kembali masuk laci lantaran kondisi perekonomian Indonesia sedang terkena krisis.

Usul tentang redenominasi kembali dijajaki pada saat Burhanuddin Abdullah menjadi Gubernur Bank Indonesia. Kebetulan pada 2005 Turki sudah berhasil merampingkan angka nominal mata uangnya, lira. Pada 2008, Bank Indonesia semakin serius melakukan studi redenominasi tersebut. Demi niat itu, sejumlah pejabat Bank Indonesia melakukan studi banding ke negeri bekas Kesultanan Usmani itu.

Selain itu, para pejabat Bank Indonesia, seperti Budi Rochadi dan Kepala Biro Peredaran Uang Yopie Alamudin, melakukan studi banding ke Rusia. "Setidaknya empat kali studi banding," ujar seorang pebisnis Rusia kepada Tempo di Jakarta pekan lalu. Budi mengaku pernah ke Rusia, tapi bukan untuk studi banding. "Hanya menyampaikan presentasi dalam acara asosiasi kredit di sana," katanya. Darmin mengatakan, Bank Indonesia melakukan penjajakan ke sejumlah negara yang melakukan redenominasi. "Tapi paling sering ke Turki karena mereka paling sukses," katanya.

Keseriusan Bank Indonesia mengusulkan perampingan angka nominal rupiah juga terlihat setelah lembaga itu membahasnya bersama Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dua tahun lalu. Dalam sebuah pertemuan, kata seorang karyawan Peruri, Bank Indonesia menginformasikan kebutuhan uang baru dalam program redenominasi sebanyak 12 miliar bilyet. "Itu gede banget, di atas kapasitas produksi Peruri sebanyak 8 miliar bilyet," bisiknya.

Sekretaris Perusahaan Peruri Slamet Haryono membenarkan cerita tersebut. Saat itu Bank Indonesia dan tiga pelanggan Peruri seperti Bea-Cukai, Imigrasi, Badan Pertanahan Nasional, menggelar rapat koordinasi rencana jangka panjang. Bank Indonesia memaparkan rencana perampingan angka nominal rupiah karena terkait juga dengan proyek Peruri. Adapun mengenai jumlah uang baru redenominasi, Slamet mengatakan," BI secara resmi belum menyebut jumlahnya berapa, karena pelaksanaan juga masih jauh."

Kendati sudah punya kajian mendalam, ternyata Bank Indonesia tak berani mengusulkan secara resmi kepada pemerintah. Menurut seorang pejabat Bank Indonesia, bank sentral belum mau mengekspos penuh rencana itu lantaran khawatir masyarakat salah persepsi mengartikan redenominasi sebagai sanering. "Maklum, masih banyak orang dari generasi yang merasakan pahitnya sanering," ujarnya.

Pada masa kemerdekaan, pemerintahan Sjafrudin Prawiranegara melakukan sanering, tapi gagal mencegah lonjakan inflasi. Rakyat malah kehilangan daya beli. Pada 1959 juga dilakukan sanering kedua. Tapi kembali gagal. Inflasi tetap terbang tinggi.

Rencana perampingan angka nominal rupiah kembali disimpan rapat. Terlebih lagi pada 2008, Indonesia ikut kena imbas krisis subprime mortgage (krisis sektor properti) di Amerika Serikat. "Redenominasi berpeluang berhasil bila dilakukan dalam kondisi ekonomi sehat," kata sang sumber.

Alhasil, Bank Indonesia terus menyimpan rapat-rapat riset dan studi perampingan angka nominal rupiah itu selama lebih dari satu setengah tahun. Tapi, serapat-rapatnya menyimpan rahasia, usul penting itu secara tak sengaja bocor ke sejumlah jurnalis pada Mei lalu. Tapi saat itu Bank Indonesia masih berhasil meredamnya. Isu perampingan digit nol pada rupiah seperti ditelan bumi.

Sumber Tempo membisikkan, studi tentang redenominasi memang sudah rampung. Tapi belum layak diungkap ke publik. Selain khawatir diartikan sanering, lantaran masih ada beberapa permasalahan penting di luar kendali Bank Indonesia, seperti masalah hukum dan sistem akuntansi. "Itu masih harus dikoordinasikan dulu dengan pemerintah dan lembaga lain," ujarnya.

Toh, sukses Bank Indonesia meredam isu redenominasi hanya bisa bertahan tiga bulan. Pekan lalu isu itu semakin santer, dan justru melintir menjadi isu pemotongan nilai rupiah alias sanering. Isu liar itu yang memaksa Darmin dan Budi menggelar jumpa pers dan meluruskan semua berita miring. Menurut Darmin, konsep kajian dan studi tentang perampingan angka nominal rupiah memang sudah selesai. Hanya, kata dia, masih perlu ada pemantapan atas rencana sosialisasinya. "Belum pernah resmi dibahas dalam rapat dewan gubernur," kata Budi Rochadi.

Bank Indonesia mengaku berkeinginan kuat merampingkan angka nominal rupiah. Upaya ini sengaja ditempuh, menurut Agus Santoso, Deputi Direktur Direktorat Hukum Bank Indonesia, salah satunya untuk meningkatkan kebanggaan memegang rupiah. Dengan mengurangi nol tiga digit, rupiah bisa terlihat lebih baik, dari semula satu dolar setara dengan Rp 9.000 menjadi Rp 9. "Kan bisa terlihat lebih gagah," ujarnya saat berkunjung ke redaksi majalah Tempo pekan lalu.

Di mata orang awam, mata uang rupiah yang mempunyai nol banyak seolah-olah terlihat lebih keren dan berharga. Padahal, kata Agus, kondisi itu sebaliknya. Rupiah justru relatif tidak bernilai dibanding mata uang negara lain.

Pengamat pasar uang Farial Anwar punya penilaian lebih buruk terhadap rupiah. Menurut dia, nilai tukar rupiah Rp 9.000 per dolar sama seperti nilai tukar negara miskin di Benua Afrika. "Mata uang rupiah ini masuk 10 uang sampah (garbage money) karena sudah sangat tidak bernilai," ujarnya kepada Viva Budi dari Tempo pekan lalu. Nilai rupiah, katanya, akan semakin baik bila perampingan angka nominal rupiah direalisasikan.

Adapun pengamat ekonomi Andi Irawan mengatakan bahwa perampingan angka nominal rupiah banyak manfaatnya. Namun merealisasikan mimpi itu bukan perkara mudah. "Sulit dengan kondisi geografis Indonesia," ujarnya. Redenominasi juga bukan tanpa risiko. Ada kemungkinan akan lahirnya salah persepsi tentang nilai mata uang domestik.

Kasus itu terjadi di Afganistan pada 2002. Dua bulan setelah dilakukan redenominasi, justru nilai mata uang domestiknya turun tajam (depresiasi) karena masyarakatnya khawatir memegang mata uang domestik dan lebih nyaman memegang dolar Amerika. "Peluang terjadinya salah persepsi bisa terjadi di Indonesia," ujar Andi Irawan. Perampingan mata uang juga sangat rawan berimplikasi hiperinflasi seperti terjadi di Zimbabwe. Itu akan terjadi bila waktu penyesuaian harga barang, para pengusaha malah menaikkan harga barangnya.

Darmin menyadari semua risiko itu. Dia hakulyakin perampingan angka nominal di Indonesia tidak akan gagal seperti di Zimbabwe. Kepala Biro Hubungan Massa Bank Indonesia Difi Johansyah menambahkan, berdasarkan pengalaman sukses di Turki dan Rumania, sosialisasi intensif menjadi kunci keberhasilan perampingan angka nominal rupiah. "Tapi kami menyerahkan semua keputusan kepada Presiden dan Dewan. Jika mereka tidak setuju, kami tidak akan memaksakan," kata Darmin Nasution.

Padjar Iswara, Agoeng Wijaya, Fery Firmansyah

Mata Uang yang Paling Tak Bernilai*
Vietnam dong 19.095
Sao Tome dobra 18.655
Turkmenistan manat 14.250
Iran riyal 10.000
Indonesia rupiah 8.957
Laos kip 8.243
Guinea franc 5.150
Paraguay guarani 4.770
Zambia kwacha 4.870
Kamboja riel 4.233
*) per dolar AS Sumber: yahoo.com

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/09/LU/mbm.20100809.LU134318.id.html
Read more >>
Bookmark and Share